Selasa, 08 Mei 2012

Mitos dan Fakta Tentang Otak

Selama ini otak manusia adalah misteri yang menarik untuk dipecahkan. Banyak pertanyaan yang menyelimuti. Apa sih otak itu? Bagaimana cara kerjanya? Ada beberapa mitos tentang otak yang berkembang di masyarakat. Mitos ini dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Namun penelitian dan ilmu pengetahuan telah membuktikan sebaliknya.
Beberapa mitos tentang otak itu diantaranya adalah:
1. Otak Sangat Tergantung Kepada Keturunan
Mitos ini sudah merasuk di benak masyarakat. Otak anak itu tergantung sama otak orang tuanya. Kalau bapak atau ibunya cerdas pasti anaknya juga cerdas. Begitu juga sebaliknya, jika bapak atau ibunya punya otak pas-pasan anaknya bakalan begitu juga. Itulah mitos yang berkembang dan diyakini kebenarannya.
Padahal kecerdasan otak manusia tidak ditentukan oleh faktor keturunan saja. Memang betul gen dan pengaruh orang  tua ikut membentuk otak. Faktor keturunan hanya menjadi potensi.  Anda bisa menjadi cerdas jika potensi itu dikembangkan.  Otak dapat berubah secara positif jika diberi rangsangan. Begitu juga sebaliknya, jika tak diberi rangsangan otak akan menjadi negatif dan tidak berkembang.
Pada umumnya ukuran organ tubuh akan bertambah jika dilatih. Otot akan membesar jika orang rajin berolahraga. Begitu juga  dengan otak. Para ilmuwan meneliti perkembangan otak tikus dengan memberikan lingkungan yang diisi dengan banyak permainan.  Ternyata  permainan tersebut merangsang perkembangan otak tikus. Jika dibandingkan sel otak tikus yang tinggal di lingkungan tadi  jauh lebih banyak dibandingkan dengan tikus yang tinggal di sangkar biasa. Hasil penelitian itu juga berlaku untuk manusia.
2. Otak akan menurun seiring dengan umur
Banyak orang yang percaya semakin tua orang akan semakin pikun karena kemampuan otaknya menurun. Argumenasinya adalah ribuan bahkan jutaan neuron di dalam otak mati setiap hari. Sehingga diprediksi pada usia tua, sekitar 40% neuron kita hancur. Kehilangan neuron dipersepsikan akan menurukan kapasitas otak untuk menerima, menyimpan, mengolah dan mengeluarkan informasi.
Para peneliti mengatakan kerusakan otak karena usia tidak terlalu fatal. Bahkan kehilangan neuron pada bagian otak yang paling penting sangat sedikit. Lagi pula berkurangnya neuron tidak berarti berkurangnya fungsi intelektual otak. Penentu kecerdasan bukanlah jumlah sel-sel otak tetapi kekuatan koneksi dan berapa banyak arus informasi diantara mereka.
Penelitian lain membuktikan otak orang tua lebih lambat mengolah informasi disebabkan oleh penyakit yang diderita bukan oleh usia. Jadi kalau orang tua yang sehat, kapasitas otaknya tidak menurun. Satu lagi “perusak” otak adalah  radikal bebas. Cara radikal bebas masuk ke dalam tubuh bisa melalui makanan terutama yang berlemak, asap rokok, pencemaran udara dan zat beracun yang berasal dari udara atau air. Kerusakan otak akibat radikal bebas terus menumpuk dan semakin parah jika dibiarkan.
Jangan khawatir radikal bebas bisa dibasmi oleh antioksidan yang ada dalam tubuh. Antioksidan memiliki kemampuan untuk “melucuti” senjata radikal bebas dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Jumlah antioksidan bisa ditambah melalui makanan. Ada buah-buahan tertentu yang mengandung antioksidan tinggi seperti prem, apel, kismis dan mentimun. Bisa juga dengan makan vitamin penambah antioksidan.
Jadi kedua mitos tersebut tidak benar karena fakta tentang otak telah ditemukan oleh para ilmuwan. Ada banyak orang super cerdas yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Banyak juga orang tua bahkan kakek nenek yang masih bisa bekerja dengan optimal karena otaknya masih berfungsi normal. Lihat saja para pemimpin negara atau perusahaan besar yang berusia di atas 60 tahun.
Ada satu prinsip kerja otak yang harus kita tahu yaitu “use it or loose it”. Gunakan otak atau anda akan kehilangan otak .  Jika tak dipakai maka kemampuan otak semakin lama akan semakin berkurang. Jika terus dipakai otak akan semakin cemerlang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar