Minggu, 24 Juni 2012

Surga Rokok Bernama Indonesia

asap rokok
asap rokok(google.com)
Hampir 70 persen pria dewasa di Indonesia adalah perokok, hal ini diperparah dengan kondisi dimana anak-anak usia remaja perokok dari 13-17 tahun semakin meningkat. Di era tahun 60 an, Amerika mencanangkan slogan nya sebagai surga rokok dengan tagline nya “Come to the Marlboro Country”. Ya, di era itu Amerika memang Marlboro Country.Namun apa yang kita lihat sekarang, Indonesia lah The New Marlboro Country.
Satu dekade terakhir ini, Amerika gencar sekali meng kampanye kan anti rokok, baik melalui edukasi usia dini maupun dengan menaikkan pajak dan harga rokok yang tinggi. Sementara itu di negara kita, cukup mudah sekali untuk mendapatkan sebatang rokok, bahkan anak kecil sekali pun bisa membeli nya di warung eceran.
Fenomena balita perokok pun sering sekali bermunculan, miris memang. Peran lingkungan dan keluarga sangat besar disini, harusnya keluarga dan lingkungan lah yang bertanggung jawab terhadap perilaku balita-balita itu.
Adalah langkah Phillip Morris beberapa tahun lalu yang membeli kepemilikan saham HM Sampoerna senilai 40 trilyun rupiah lebih yang menandakan era Indonesia sebagai Marlboro Country semakin menancap. Setelah terseok-seok di Amerika, mau tidak mau Phillip Morris harus bekerja keras mencari ladang baru bagi mesin-mesin koboy nya, dan Indonesia menjadi pilihannya.
Masuknya Phillip Morris semakin meramaikan persaingan di industri rokok tanah air, raksasa seperti Djarum dan Gudang Garam pun tidak akan tinggal diam. Semuanya semakin berlomba-lomba untuk membujuk perokok untuk menggunakan produk mereka. Event-event pun digelar untuk semakin menancapkan awareness mereka di masyarakat, meskipun sering kali yang didasar adalah pria dewasa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka juga menyasar pasar “young adult” atau mereka yang bisa dikatakan pemula dalam dunia rokok. Bayangkan, event olahraha nomor satu di tanah air kita, sepakbola, juga disokong penuh oleh perusahaan rokok, sangat kontras dengan negara lain.
Tidak bisa dipungkiri lagi hasil cukai dari rokok pun sangat dinanti oleh pemerintah kita. Dari data ditjen Bea dan Cukai tahun 2011, pendapatan dari rokok mencapai Rp 65 trilliun, wow. Jumlah ini hampir memenuhi target cukai rokok yang sebesar Rp 68,7 trilliun di tahun yang sama. Di satu sisi pemerintah menaikkan cukai rokok agar harga rokok semakin mahal dan akhirnya masyarakat akan berpikir untuke membelinya, namun di satu sisi pemerintah juga berharap mendapat pemasukan yang sangat banyak dari cukai rokok.
Pelarangan merokok di tempat umum mulai digalakkan, namun masyarakat kita juga masih sulit untuk mengikuti larangan itu. Rokok sudah mendarah daging di tanah air, harga berapa pun rokok pasti dibeli, rokok sudah menjadi candu, bahkan melebihi kebutuhan pokok. Entah sampai kapan negara kita menjadi Surga bagi para perokok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar