Selasa, 08 Mei 2012

Kunci Mewujudkan Pernikahan Bahagia

Kunci Mewujudkan Pernikahan Bahagia 

 

Menurut data statistic kebanyakan orang dari segala usia yang memutuskan untuk menikah akan memiliki harapan hidup yang lebih besar daripada orang yang hidup sendiri. Karena itulah pernikahan sangat penting bagi setiap orang, namun mengapa ada begitu banyak pernikahan yang mengalami kegagalan…..?

Salah satu alasannya adalah kita sering mengabaikan kenyataan bahwa pernikahan yang bahagia tidak terwujud secara kebetulan, namun melalui upaya yang konstan dan terus menerus mau berlatih prinsip dasar dalam mewujudkan pernikahan yang bahagia seperti:

1. Peran /posisi 
Di zaman yang semakin berkembang ini ada begitu banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat kita. Seorang istri atau ibu dapat dengan bebas mengejar karir mereka, dan hanya sekitar 12% keluarga yang masih memegang prinsip rumah tangga “tradisional” dimana suamilah yang berperan sebagai pencari nafkah dan istri tinggal di rumah untuk mengurus rumah tangga serta merawat anak-anak. Agar terwujud pernikahan yang bahagia, kedua pasangan perlu menguraikan dan menyepakati peran individu dan tanggung jawab masing-masing. Jika keduanya bekerja, keduanya harus berbagi tugas rumah (dalam dan luar) dan membantu merawat anak-anak.

2. Komitmen Pernikahan
tanpa sebuah komitmen yang ada adalah pernikahan yang gagal, ini berarti bahwa setiap langkah yang diperlukan untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia membutuhkan komitmen dari setiap pasangan. Komitmen antara satu sama lain pada pertumbuhan, kesejahteraan, dan pengembangan masing-masing pasangan. “Pernikahan adalah komitmen satu pribadi yang tidak sempurna kepada pribadi lain yang juga tidak sempurna". Tanpa komitmen seperti ini tidak akan ada pernikahan yang dapat bertahan lama.

3. Tanggung jawab
Orang yang memilih untuk menikah bertanggung jawab atas pilihan mereka, untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan melakukan semua yang mereka bisa untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia. Setelah memiliki anak maka mereka juga bertanggung jawab untuk pertumbuhan, kesejahteraan, dan perkembangan anak mereka.

4. Komunikasi yang Efektif
Menurut seorang konselor pernikahan terkemuka, setidaknya setengah dari semua pernikahan yang hancur, disebabkan oleh komunikasi yang salah. Komunikasi yang efektif didasarkan pada bagaimana kita dapat mengetahui pikiran kita, keinginan, motif dan perasaan serta mampu bersikap jujur dan mengekspresikannya secara kreatif. Orang yang menolak atau menekan perasaan batin mereka dan hasrat sejati akan gagal untuk berkomunikasi secara efektif dan tidak pernah dapat menemukan keintiman sejati.

5. Manajemen waktu
Anak-anak yang tidak pernah menghabiskan waktu bersama orang tua mereka, akan merasa bahwa mereka tidak diinginkan dan tidak dicintai, Sama halnya dengan pasangan yang telah menikah. Pengaturan waktu dibutuhkan untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia. Pasangan suami istri perlu menghabiskan waktu yang berkualitas bersama. Meluangkan waktu bagi pasangan berarti membuat satu sama lain dapat merasakan kehadiran pasangannya, setidaknya menyediakan waktu untuk dapat menikmati secangkir teh bersama-sama, berkomunikasi, bercanda, dan menumpahkan segala isi hati.

6. Komitmen kerohanian
Penelitian telah menunjukkan bahwa keluarga yang berkomitmen untuk iman keagamaan yang kuat memiliki kesempatan lebih besar untuk tinggal bersama dengan bahagia. Keluarga yang berdoa bersama-sama adalah jauh lebih mungkin untuk tetap bersama dan bahagia. Pernikahan ditetapkan oleh Allah. Dia memiliki perintah ilahi untuk itu. Kita tidak bisa memperbaiki rencananya karena rencanaNya sempurna bagi kita. Kita hanya perlu percaya dan melatihnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar